Ulfa's Nest
* A Reader who wants to be A Writer * Traveler who has a dream to go around the world * A daughter who wants to make a happy ending for her family *
Translate
Entri Populer
Minggu, 14 Juni 2020
Tersisih
Sementara ku masih di sini
Sendiri mencari
Aku perih mendengar mereka dipuji
Sementara ku di sini meringis
Tersudut dalam ruang imaji
Aku risih jikala rasa tersisih
Seakan keberadaanku tiada arti
Hanya sekejap mengisi
Sungguh mengiris
Betapa miris
Solo Baru, 14 Juni 2020 (19:38)
Senin, 20 Februari 2017
Dejavu
"Berikan hape Mbakmu. Siapa tahu dia dapat telpon dari kantor."
Kalimat itu berhasil menarikku kembali ke kejadian lima tahun silam. Peristiwa yang hampir sama, terjadi lagi.
Aku hanya bisa terdiam mendengar ucapan Ibuku. Dalam hati aku menangis. Entah kali ini dengan cara bagaimana aku mengatakan yang sebenarnya.
Biaya kuliah adik, uang kos, biaya makan, spp adik yang Smp, uang listrik. Bagaimana caranya menjelaskan kalau kantor tidak akan menghubungiku lagi untuk bekerja?
Blacklist. Dipecat secara sepihak mungkin bahasa kasarnya.
Lima tahun lalu aku takut pulang. Waktu itu hujan deras. Dan aku berusaha tegar ketika atasan menyampaikan bahwa masa trainingku dinyatakan gagal.
Di mana letak salahku?
Dia menjawab, "Ada yang bilang bahasa inggrismu tidak terlalu bagus. Kau tidak bisa menggunakan verb 3 dengan benar."
Saat itulah aku tahu bahwa ada yang tidak menginginkanku.
Aku lulusan Sastra Inggris. Gemar menulis. Suka membaca.
Ketika membuat cerita dalam bahasa inggris, aku selalu menggunakan verb 2. Bukan verb 3 seperti yang mereka katakan.
Dengan kepala tegak, aku menatap matanya. Mengatakan bahwa aku menerima keputusannya. Senyum sinis tersungging di ujung bibirku. Percuma melakukan perlawanan.
Orang-orang seperti merekalah yang tidak akan berkembang.
Sekeluarnya dari perusahaan itu, aku berdiam diri di halte bus. Menikmati setiap aliran yang membasahi pipiku.
"Apa yang harus kukatakan pada Ibuku?"
Aku hanya berdiam diri sampai langit berubah gelap. Karena malam, bukan karena hujan.
Setelah berjam-jam, baru aku memberanikan diri mengangkat telepon. Menghubungi Ibuku.
"Aku dinyatakan tidak lolos, Bu. Nggak apa-apa, kan? Belum rezekiku."
"Yowes. Tidak apa-apa. Kau cepatlah pulang."
Baru aku bisa bernapas lega. Setelah sebelumnya, aku puaskan diriku. Menangis lebih kencang. Hingga alirannya menderas.
Karena itulah aku suka hujan. Kedatangannya selalu bisa menyamarkan air mata.
Itu lima tahun yang lalu. Dan sekarang..kejadian yang sama terulang.
Tenang saja. Tidak ada tangisan kali ini. Yang ada hanya sakit hati berlebih. Karena yang mengkhianati adalah kawan sendiri.
Ah. Benar juga istilah itu. 'Bisa jadi musuh terbesar kita adalah orang yang paling dekat dengan kita.'
Cinta itu membutakan. Dan aku baru tahu kebutaannya bisa separah ini. Membuat orang lupa diri.
Termasuk menusuk teman sendiri dari belakang.
Mungkin saat ini dia berpikir, "Aku hanya menceritakan kebenaran."
Atau..bisa juga dia berpikir, "Yang kulakukan ini adalah yang terbaik untuk mereka. Biar mereka dapat pelajaran."
Tapi, tahukah kau? Alasan terbesarmu adalah C I N T A.
Kau hanya ingin dekat dengan orang yang kau suka.
Kau hanya ingin mencari muka di hadapannya.
Pujian. Itulah yang kau inginkan.
Dan di sini, aku hanya bisa menggelengkan kepala. Pasrah untuk kedua kalinya.
Umpatan. Teriakan. Sumpahan.
Itu semua tidak akan bisa menghapus semua yang sudah kau ucapkan. Jadi aku lebih memilih diam.
Diam-diam menyiksamu itu lebih menyenangkan.
When you realize that something goes wrong. Stop.
Inilah yang aku lakukan sekarang. Berhenti memikirkan si Pengkhianat itu. Dan kembali memulai segalanya dari bawah.
Apa hal paling menyakitkan dari semua perkataannya? Imbas.
Imbasnya terhadap keluargaku.
Hutang menumpuk. Sementara pemasukan belum ada.
Kehidupan kami tidak sama lagi seperti dulu. Dan kau tahu itu salah siapa?
Bukan. Bukan salahmu.
Tapi salahku yang selama ini terlalu memercayaimu. Menganggapmu baik. Padahal kau tak lebih hanya seorang Bajingan yang beruntung.
Tuesday
21022017
Rabu, 25 Januari 2017
Review Cantik Itu Luka
Selasa, 13 Desember 2016
Seandainya
Senin, 26 September 2016
Silly
Terkadang..
Aku menghilang sejenak hanya untuk dicari.
Aku ingin dicari.
Hanya ingin tahu seberapa besar arti kehadiranku.
Ah. Ternyata tidak sebesar yang kuangankan.
Baiklah.
I am too silly to do this thing.
Cipinang, 26092016
4.42 p.m
Selasa, 20 September 2016
Hibernasi
Memutuskan untuk istirahat sejenak dari dunia sosmed. Ah. Blog inipun juga bagian dari sosmed. Alasannya?
Maybe because i was too angry to accept the reality.
Anggap saja diriku yang sekarang sedang dalam masa transisi. To be a better person. Writer. Reader. Apapun lah sebutannya.
Lantas..apa hubungan itu semua dengan sosmed? Everything.
I've got everything from sosmed. Friends. Name. Praise. Money (sometimes). Terkadang aku bahkan mengumbar masalah pribadi dalam bentuk umpatan, cacian, makian, kesedihan.
See? Dunia sosmed sebegitu berpengaruhnya dalam hidupku. And sometimes, ketika salah satu tulisanku tidak mendapatkan tanggapan, aku akan berpikir,"Sepertinya ada yang salah dengan diriku ataupun tingkahku. Kesalahan apa yang sudah kuperbuat?"
I will think about it over and over. Pernah sampai sakit. Nah. I don't want it happen again in my life.
Karena itulah aku memutuskan hibernasi sejenak. Hengkang sejenak. Istirahat sejenak.
*ngomong opo sih, UL, kamu itu?*
Haha..tauk ah.
See you on the next occasion.
Siapa Aku?
Siapa dia?
Siapa aku?
Dua orang yang berasal dari tempat yang sama. Lahir di Bulan dan tahun yang sama. Namun, berbeda kepribadian.
Every story always has its ending.
I run for you who never run for me.
This is the end.

