Translate

Entri Populer

Senin, 20 Februari 2017

Dejavu

"Berikan hape Mbakmu. Siapa tahu dia dapat telpon dari kantor."

Kalimat itu berhasil menarikku kembali ke kejadian lima tahun silam. Peristiwa yang hampir sama, terjadi lagi.

Aku hanya bisa terdiam mendengar ucapan Ibuku. Dalam hati aku menangis. Entah kali ini dengan cara bagaimana aku mengatakan yang sebenarnya.

Biaya kuliah adik, uang kos, biaya makan, spp adik yang Smp, uang listrik. Bagaimana caranya menjelaskan kalau kantor tidak akan menghubungiku lagi untuk bekerja?

Blacklist. Dipecat secara sepihak mungkin bahasa kasarnya.

Lima tahun lalu aku takut pulang. Waktu itu hujan deras. Dan aku berusaha tegar ketika atasan menyampaikan  bahwa masa trainingku dinyatakan gagal.

Di mana letak salahku?

Dia menjawab, "Ada yang bilang bahasa inggrismu tidak terlalu bagus. Kau tidak bisa menggunakan verb 3 dengan benar."

Saat itulah aku tahu bahwa ada yang tidak menginginkanku.

Aku lulusan Sastra Inggris. Gemar menulis. Suka membaca.

Ketika membuat cerita dalam bahasa inggris, aku selalu menggunakan verb 2. Bukan verb 3 seperti yang mereka katakan.

Dengan kepala tegak, aku menatap matanya. Mengatakan  bahwa aku menerima keputusannya. Senyum sinis tersungging di ujung bibirku. Percuma melakukan perlawanan.

Orang-orang seperti merekalah yang tidak akan berkembang.

Sekeluarnya dari perusahaan itu, aku berdiam diri di halte bus. Menikmati setiap aliran yang membasahi pipiku.

"Apa yang harus kukatakan pada Ibuku?"

Aku hanya berdiam diri sampai langit berubah gelap. Karena malam, bukan karena hujan.

Setelah berjam-jam, baru aku memberanikan diri mengangkat telepon. Menghubungi Ibuku.

"Aku dinyatakan tidak lolos, Bu. Nggak apa-apa, kan? Belum rezekiku."

"Yowes. Tidak apa-apa. Kau cepatlah pulang."

Baru aku bisa bernapas lega. Setelah sebelumnya, aku puaskan diriku. Menangis lebih kencang. Hingga alirannya menderas.

Karena itulah aku suka hujan. Kedatangannya selalu bisa menyamarkan air mata.

Itu lima tahun yang lalu. Dan sekarang..kejadian yang sama terulang.

Tenang saja. Tidak ada tangisan kali ini. Yang ada hanya sakit hati berlebih. Karena yang mengkhianati adalah kawan sendiri.

Ah. Benar juga istilah itu. 'Bisa jadi musuh terbesar kita adalah orang yang paling dekat dengan kita.'

Cinta itu membutakan. Dan aku baru tahu kebutaannya bisa separah ini. Membuat orang lupa diri.

Termasuk menusuk teman sendiri dari belakang.

Mungkin saat ini dia berpikir, "Aku hanya menceritakan kebenaran."

Atau..bisa juga dia berpikir, "Yang kulakukan ini adalah yang terbaik untuk mereka. Biar mereka dapat pelajaran."

Tapi, tahukah kau? Alasan terbesarmu adalah C I N T A.

Kau hanya ingin dekat dengan orang yang kau suka.

Kau hanya ingin mencari muka di hadapannya.

Pujian. Itulah yang kau inginkan.

Dan di sini, aku hanya bisa menggelengkan kepala. Pasrah untuk kedua kalinya.

Umpatan. Teriakan. Sumpahan.

Itu semua tidak akan bisa menghapus semua yang sudah kau ucapkan. Jadi aku lebih memilih diam.

Diam-diam menyiksamu itu lebih menyenangkan.

When you realize that something goes wrong. Stop.

Inilah yang aku lakukan sekarang. Berhenti memikirkan si Pengkhianat itu. Dan kembali memulai segalanya dari bawah.

Apa hal paling menyakitkan dari semua perkataannya? Imbas.

Imbasnya terhadap keluargaku.

Hutang menumpuk. Sementara pemasukan belum ada.

Kehidupan kami tidak sama lagi seperti dulu. Dan kau tahu itu salah siapa?

Bukan. Bukan salahmu.

Tapi salahku yang selama ini terlalu memercayaimu. Menganggapmu baik. Padahal kau tak lebih hanya seorang Bajingan yang beruntung.

Tuesday
21022017