Translate

Entri Populer

Rabu, 25 Januari 2017

Review Cantik Itu Luka



Judul  : Cantik Itu Luka
Penulis  : Eka Kurniawan
Tebal Buku  : 480 Halaman


'Buku ini berat' adalah kalimat pertama yang langsung muncul dalam benak saya. Butuh waktu satu bulan lebih untuk menyelesaikan buku ini. Dan itu pun saya harus benar-benar fokus. Tidak memegang ponsel ataupun melakukan kegiatan lain.

Cerita ini bermula dari seorang pelacur bernama Dewi Ayu yang bangkit dari kubur setelah meninggal selama 21 tahun. Dewi Ayu dikenal sebagai seorang pelacur paling cantik. Ia mempunyai tiga orang anak yang juga sangat cantik. Ada Alamanda si sulung, Adinda sebagai anak ke dua. Dan Maya Dewi menjadi yang paling bungsu.

Sebelum meninggal, Dewi Ayu melahirkan anaknya yang ke empat yang kemudian diberi nama Cantik. Berbeda dari kakak-kakaknya, Cantik mempunyai wajah yang buruk rupa. Tidak ada orang yang mau mendekatinya. Ia sendiri juga tidak pernah keluar rumah.

Awalnya, saya berpikir cerita ini hanya akan berpusat pada Cantik. Mungkin karena judulnya Cantik Itu Luka, maka saya terkecoh. Di Luar dugaan, penulis menceritakan karakter demi karakter secara keseluruhan dengan porsi yang sama. 

Dengan setting pada masa penjajahan, saya sedikit dibuat bingung dengan umur masing-masing karakter. Misal untuk tokoh Shodanco, dia telah mengikuti banyak peperangan. Dia bahkan ditunjuk sebagai Jenderal (kalau saya tidak salah ingat), walaupun pada akhirnya menolak. Sewaktu dia jatuh cinta pada Alamanda dan ingin mneikahinya, saya sempat berpikir," Tidak terlalu tuakah Shodanco ini untuk Alamanda yang baru berusia 16 tahun?"

Kemudian untuk tokoh Maman Gendeng. Dari namanya saja saya sudah berpikir bahwa lelaki ini sudah tua. Mungkin usianya sekitar 40 tahun ke atas. Dan dia menikah dengan anak Dewi Ayu yang paling bungsu. Untuk Kamerad Kliwon, saya tidak ada masalah. Yang saya tahu, dia memang masih muda. Baru menjelang akhir buku, saya baru paham bahwa ketiga lelaki ini (kurang lebih) seumuran. Jika pun beda, hanya terpaut, 3-5 tahun.

Jujur, saya baru bisa menikmati buku ini di halaman ke 100 lebih. Setelah memahami gaya bercerita penulis, buku ini tidak lagi tergolong 'berat' bagi saya. Saya sungguh menikmati membaca buku ini dan berharap bisa secepatnya selesai.

Latar yang digambarkan begitu jelas. Bahasa yang dipakai sangat lugas. Mungkin bagi sebagian orang ada yang mengatakan 'vulgar'. Tapi tidak bagi saya. Saya justru menyukai penggunaaan bahasa yang seperti ini. Pantas saja jika Eka Kurniawan disebut-sebut sebagai Pram masa kini.

Ketika membaca buku ini, saya banyak menyimpan harapan. Harapan teruntuk para tokohnya. Terutama untuk urusan cinta. Eka meramu sebuah cerita cinta untuk para tokohnya dengan cukup menggemaskan. Saya terkadang dibuat geregetan sendiri. Saya bisa mengatakan ada unsur fairy tales dalam buku ini. Berhubung saya penggemar genre satu itu, saya sungguh dibuat senang dengan cerita cinta di masa penjajahan yang unik. 

Semakin banyak halaman yang saya baca, semakin saya dibuat tidak bisa berhenti membuka halaman per halaman. Pada halaman ke 400 sekian (saya lupa pastinya), saya dibuat terkejut yang berakhir dengan kesedihan. Sedih karena salah satu tokoh favorit saya mempunyai akhir jauh dari apa yang saya harapkan. Meskipun begitu, saya tetap bisa menyelesaikan buku ini sampai selesai. Dan saya kembali menemukan soul saya dalam membaca.

Karena selama beberapa bulan ini saya kehilangan minat dalam membaca maupun menulis. Cantik Itu Luka berhasil menjadi buku pertama yang saya selesaikan di tahun 2017. Setelah berhasil menyelesaikan buku ini, semangat saya untuk menyelesaikan buku-buku lain yang terbengkalai meningkat.

Mungkin hanya sebatas ini yang bisa saya sampaikan untuk review Cantik Itu Luka. Ini merupakan review pertama saya. Jadi mungkin belum se-ahli para reviewers yang lain. Semoga bisa diterima dan ada yang membaca.

Bagi kalian yang belum membaca Cantik Itu Luka..You have to read this book, guys!!!!! Buku ini bikin ketagihan.

See ya on the next review.

Solo
26012017