Translate

Entri Populer

Jumat, 11 Desember 2015

The Black Side

Sedari kecil, aku hidup dengan caci maki. Umpatan demi umpatan tak ubahnya bedil yg ditembakkan bertubi-tubi.

Sedari kecil, aku hidup dengan teriakan-teriakan. Ketakutan selalu menjadi teman setia tanpa kata.

Aku ingat, dulu, sewaktu aku masih kecil, Ibuku menangis tersedu di atas tumpukan tikar yang terlipat. Diriku yang masih kecil ini tak mengerti apa-apa. Hanya bertanya dengan polosnya, kemudian duduk diam menemani Ibu hingga tangisnya reda.

Aku ingat, dulu, sewaktu aku masih kecil, aku pernah bertanya pada Ibu. "Apakah kita akan dihidupkan kembali setelah mati, dan Allah yg kemudian menggerakkan kita?" Karena saat itu, dalam bayanganku, manusia digerakkan menggunakan tali oleh Allah. Layaknya boneka tali yg digerakkan manusia. Saat itu, Ibu langsung memelukku dan menyuruhku tidur.

Waktu berlalu, aku kecil berubah menjadi aku remaja. Umpatan dan teriakan masih saja menjadi lagu pengantar tidur. Kali ini disertai benda melayang hingga pukulan keras.

Hal besar terjadi ketika aku remaja. Memberikan pelajaran baru bagi umpatan dan teriakan. Saat itu aku melihat warna merah pada matanya. Pertama kalinya kulihat dia menahan tangisan.

'Ah, sepertinya dia mulai menyesal.' Pikirku saat itu.

Waktu terus berlalu. Aku remaja beranjak dewasa. Aku menjadi lebih tangguh. Selalu ingin melindungi semua yg lemah di sekitarku.

Ketika itu, aku hanya punya satu tujuan, mencegah semua yg pernah kualami tidak dialami adik-adikku. Ah, tapi sia-sia. Umpatan dan teriakan itu tetap saja bergema di setiap sudut rumahku.

Hingga akhirnya.. aku berkenalan dengan umpatan serupa dan mulai mengucapkannya. Aku pun melakukan teriakan yg sama, menyimpan emosi yg sama. Ternyata, aku sudah menjadi seperti dia.

Dia adalah kaca pembandingku. Lambat laun, aku dewasa mempunyai sifat yg hampir sama dengan dia. Kemarahan yg sama. Kesombongan yg sama. Tentu saja dengan pemikiran yg tetap berbeda.

Aku benci menjadi seperti dia.
Aku benci setiap hari berhadapan dengan dia.
Aku benci karena dia selalu berbicara berdasarkan emosi.
Aku benci karena tidak ada yg bisa menghentikan kemarahannya.
Aku benci...
Aku benci...
Aku benci...

Aku benci...rasa sayangku padanya melebihi rasa benciku.

Solo, 08122015

Senin, 23 November 2015

Arti Menulis

Morning. Selamat Hari Selasa semua...

Today, i'll talk about writing and how much it means to me.

Apa arti menulis buatmu?

Menulis itu... menumpahkan semua yang dirasakan dalam kertas. Ini versi untuk menulis diari ya..haha.

Sejak SMP saya suka menulis diari. Awalnya hanya coba-coba dan lama kelamaan ternyata menulis diari itu sangat berguna.

Dari menulis diari itu, saya mencoba untuk menulis cerita pendek. Diawali dari membaca tulisan teman SMP, saya tertantang untuk membuat tulisan yang sama. Hasilnyaa... gagal. T_T

Gagal bukan berarti nggak jadi ya. Jadi kok tulisannya. Hanya saja tulisan itu ide asli bukan dari saya. Melainkan saya melihat mini series di tv, dan berhubung saya tidak sabar mengetahui akhirnya, saya tulis ulang cerita tersebut. Bisa disebut gagal nggak ini?

Setelah itu, saya tidak lagi menulis cerita pendek. Fokus ke menulis diari saja dan membaca semua buku yang bisa dibaca. Komik, novel, puisi, majalah.. semuanya. Setiap hari, setidaknya saya harus bisa menyelesaikan satu bacaan. Eh, ini berlaku untuk komik ya. Kalau untuk novel, tiga atau empat hari lah. :))

Akhirnya di tahun 2005. Setelah saya lulus SMA dan mulai bekerja. Mulai tahu yang namanya komputer. Serta mulai bisa mengetik di microsoft word. Saya mulai menulis cerita pertama saya.

Pertama kali baca tulisan sendiri?

Unbelieveable. Ternyata bisa ya saya menulis. Walaupun kalau dibaca bikin ketawa ngakak. Karena perbendaharaan kata yang kurang. Jadi, tulisan saya masih terlihat sangat biasa. Sangat.. Sangat.

Karena itulah, saya mulai memperbanyak bacaan saya. Genre bacaan juga berbeda-beda. Lebih variatif daripada waktu SMA. Alhamdulillah...cerita demi cerita berhasil diselesaikan. Bahkan, beberapa ada yang sudah diterbitkan oleh koran lokal.

Bertahap lah ya. Dari koran lokal, mulai mengejar mimpi agar tulisan dimuat di koran nasional. Alhamdulillah... sampai sekarang belum ada sama sekali yang lolos. Hehe..

Intinya tetap berusaha.
So, kalau ada yang bertanya seberapa berartikah menulis untuk saya.
It means a lot !!!!
Tidak usah saya gambarkan dengan kata-kata seberapa banyak artinya. Kalian pasti bisa membayangkan sendiri. Semoga. :))

Maaf yaa..tulisan kali ini agak tidak konsen. Karena hari ini saya 'memaksa' diri saya untuk menulis di blog. Benar-benar memaksa. Entah apapun jadinya tulisan ini. Yang jelas..hari ini..saya harus bisa posting tulisan.

Mungkin saya akan memberlakukan kepada diri saya,untuk menulis di blog setiap minggu sekali. Yang jelas, blog ini terus menghasilkan  tulisan- tulisan saya.

The good ones or the bad ones.

See you later on my next writing.

Jangan lupa bahagia, people !

Sabtu, 19 September 2015

Gadis Yang Terikat Masa Lalu

Hatiku ini milik siapa?
Aku tidak akan menyuarakan pertanyaan ini dengan lantang. Lebih tepatnya, karena aku tidak bisa. Kau tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang dengan sangat dan dia sama sekali tidak mengetahuinya? Aku merasakannya.
Lebih dari lima tahun yang lalu aku bertemu dengannya. Pertemuan yang tidak disengaja. Aku saja bahkan sampai lupa bagaimana detailnya. Rasanya selalu ingin merutuki diri sendiri ketika pertemuan pertama itu tidak terlalu membekas di hati.
Terkadang, aku menciptakan bayangan-bayangan tentang pertemuan itu. Hanya untuk menentramkan hati, bahwa pertemuan kami itu benar-benar bermakna. Ah, sudahlah. Untuk apa membahas sesuatu yang sebenarnya sudah tidak ada?
“Melamun lagi?” Gadis berambut sebahu ini meletakkan secangkir kopi yang masih mengepul di hadapanku.
Aku hanya mengedikkan bahu dan mengucapkan terimakasih atas kopi yang dia berikan.
“Sampai kapan kau akan berjalan di tempat seperti ini?”
Aku mengangkat cangkir kopi di hadapanku dan menghirup aromanya. Tidak berniat menjawab ucapan gadis ini.
Gadis di hadapanku mendesah, kemudian menepuk pundakku pelan dan berdiri meninggalkanku. 
Selalu seperti ini. Terisap dalam kenangan masa lalu yang belum bisa aku tinggalkan. Tidakkah aku lelah? Tentu saja ! Lantas kenapa tidak berusaha lari? Karena aku masih saja terjebak dalam kata ‘seandainya’.
Seandainya saja waktu itu aku mengutarakan perasaanku, akankah dia menerimanya dan tetap berada di sisiku?
Seandainya aku dan temanku tidak jatuh cinta kepadanya, akankah pertemanan kami berlangsung sampai saat ini?
Seandainya saja aku berubah menjadi wanita yang lebih lembut, akankah hatinya tertuju padaku?
Ah. Terlalu banyak seandainya rupanya. Mungkin gadis berambut sebahu tadi benar. Sampai kapan aku akan berhenti di tempat?
Aku menyesap kopiku sekali lagi kemudian beranjak pergi. Kulambaikan tangan pada Gadis berambut sebahu yang berdiri di belakang meja pantry. Gadis itu tersenyum, begitu pun aku. Dengan sekali dorongan, kubuka pintu kaca di depanku. Angin yang tidak terlalu kencang menerpa wajahku lembut.
Hemh. Sejuknya.
Mungkin seperti inilah yang seharusnya aku lakukan. Mendorong pintu kuat-kuat dan mulai berjalan meninggalkan masa lalu.

Senin, 07 September 2015

Thou Must Be Strong !!

Be strong. The world needs you. But first, be strong for yourself. You have a heart, you have a will, you have many dreams, and yourself needs to be loved. People love you, that's why they always say,"Thou must be strong !!" instead of leaving you without giving you strength.



Kebagusan 08082015
02.51 after midnight

Kamis, 03 September 2015

HEAL ME

Dear, Missus Devil

Addiction to something bad is bad.
I just want to be healed.
I don't want to runaway.

It's a sin.
Even God hates it that much.
That's why i really want to be healed.

So please.. Give me my drug !!


(03092015_Rajawali Selatan_Thursday afternoon)

Sabtu, 04 Juli 2015

THE THROWBACK

Back to several years ago. when i was still in college.

Dulu.. ketika aku masih menjadi anak kuliahan yang belum mengerti kata mapan. Yang hanya bisa menengadahkan tangan pada orang tua. Yang belum tahu artinya kerja keras. Aku sempat berpikir, lebih tepatnya membuat hitung-hitugan dalam hati.

'Saat ini aku berusia 20 tahun. Delapan tahun lagi yaitu tahun 2015, Ayahku genap berusia 60 tahun. Dan dia sudah mulai pensiun dari pekerjaannya. Apakah nanti pada saat itu aku sudah punya pekerjaan yang mapan? Menggantikan posisi Ayah dan membiayai semua sekolah adik-adikku? Pasti bisa. Saat itu usiaku sudah 28 tahun.'

Begitulah yang kuucapkan dalam hati.

Saat ini. Aku sudah genap berusia 28 tahun. Ayahku beberapa hari yang lalu telah pensiun. Dan ternyata..perhitunganku meleset. Aku memang sudah punya pekerjaan. Tapi bukan pekerjaan tetap. Aku memang bisa sedikit membantu keuangan keluarga. Tapi masih sedikit. Ya. Sedikit. Masih banyak sekali kekurangan yang ada di diriku.

Oh, life. Beginilah adanya.

Pernahkah kalian berpikir seperti ini? Kusarankan untuk bekerja lebih keras. Jangan seperti aku. Malas masih menjadi satu-satunya musuh terbesar yang kuhadapi.

Tetap semangat ya. Apapun keadaannya..tetap disyukuri.

Alhamdulillah... aku sudah punya pekerjaan.
Alhamdulillah... aku bisa sedikit meringankan beban keluarga.
Alhamdulilla.. Alhamdulillah. ^^

Tangerang Selatan
11.15 p.m
Saturday Night
04072015

 

Kamis, 18 Juni 2015

THAT CHEAP WOMAN


THAT CHEAP WOMAN

Seperti perempuan murahan yang menunggu datangnya belaian
Dia telentang di atas pasir pantai. Menatap jauh ke atas dengan pose bak bidadari khayangan.
Matanya terbuka lebar, tapi pikirannya jauh melayang.
Pakaian tipisnya dibiarkannya menari tertiup angin kehampaan.

Waktu itu belumlah malam.
Senja baru mengintip sedikit dari garis batas peraduannya.
Memunculkan cahaya kekuningan, membuat kulit wanita itu semakin bercahaya.

Dia menghela napas pelan, setelah sekian lama melamunkan sesosok bayangan.
Memorinya sesaat kembali ke hari sebelumnya.
Hari di mana dia mendapatkan semua belaian itu dari Sang Pria Pujaan.

Dia tertawa trgoda.
Dia tersenyum mendesah.
Dia menggeliat kesenangan.

Ah.. 
Tapi itu semua hanya sesaat.
Karena menit-menit setelahnya, dia ditinggalkan tanpa suara.

Hari ini..
Dia kembali menginginkan sentuhan.
Tapi apa daya..
Sesosok bayangan itu telah menghilang.

ULfa Fauzi
07062015
03.50 a.m
Karawaci 

Sabtu, 06 Juni 2015

Silly For Nothing


Yesterday..

I walked by myself. I met new people. Said 'Hi' politely. And then started my interview.

Yesterday..

I rode the motorcycle by myself. I felt happy and free. I rode around the street and said hi to the sea.

Yesterday..

I felt thirsty. I looked for the coconut ice to drink. Bought one and the seller gave me one for free.

Yesterday..

I tried to find another address. I found it fast. Introducing my self freely and made a new story.

Yesterday..

Someone called me. The supervisor called me. He wanted me to pick him up. And then went home together.

Yesterday..

At 8 o'clock. I went to the respondent's house alone. No one accompanied me. Only the moon shone brightly.

Yesterday..

I felt lonely !!
I cried silently !!
Then I smile widely.

Yesterday..

I wasn't lonely.
Lord accompanied me.
He made everything ran well.
And I finally felt sorry.

Yesterday..
Was about me being silly !!

#gratitude

Thank you Allah for always there for me.

Ulfa Fauzi
Cimone 30052015
02.31 am

Sabtu, 23 Mei 2015

TANYA TAK BERJAWAB


Apalah gunanya kata, ketika apa yang kita ucap tak didengar.

Pendiam bukan berarti tak punya suara. Selalu ada alasan di balik sikap seseorang.
Apakah lantas dia berhak disebut tak punya otak? Bukankah malah kalian yang ternyata berotak hampa?

Dia jarang berbicara. Dia jarang mengungkapkan pendapat. Dia lebih memilih diam.
Pernahkah kalian tanya alasannya. Tentu saja tidak !

Kalian hanyalah manusia-manusia yang suka berspekulasi. Tidak tahu apapun dan langsung memainkan jari. Menuding. 

Dia lebih memilih berjalan di barisan paling belakang. Pernahkah kalian gandeng tangannya dan bersama melangkahkan kaki ke depan? Tentu saja tidak !

Kalian hanyalah seonggok daging yang berjalan tanpa rasa. Hanya bisa mencela dan menyela.

Dia akan berdiri tegak dan menggerakkan mata menatap kalian satu per satu. Tahukah apa yang dia lihat? Tentu saja tidak !

Kalian hanyalah segenggam tanah yang hanya punya mata. Tapi mata itu tidak bisa memandang ke kedalaman hati. Sayang. 


Ulfa Fauzi
Sukadiri
12.47 a.m
240515

Minggu, 22 Februari 2015

Terjebak Tanpa Kalap

Aku merasakan gelombang kepasrahan. Ragaku berdiri di sini, tapi mulut dan hatiku sebenarnya tak sehati. Bagaimana bisa? Dan kenyataannya memang bisa.

Hidup ini memang sangat lucu. Tapi kelucuan itulah yang membuatnya tampak lebih mewarni.

Ada kalanya di satu tempat, si miskin dan si kaya berjajar satu. Berjalan beriringan demi berlembar-lembar kertas nafsu. Meskipun pada akhirnya, kertas itu akan berubah lusuh. Namun, nilainya tak pernah luntur.

Dan kali ini aku menjadi si miskin. Seakan manusia yang jiwanya telah dikuasai makhluk lain dunia. Terkadang aku melupakan Sang Penguasa, hanya demi mengabdikan diri pada ketidakjelasan.

Sungguh hina ketika aku hanya bisa berteman dengan kesombongan. Pun ketika kesombongan itulah yang merobek-robek setiap celah keberhasilanku dan akhirnya menjatuhkan martabatku. Penyesalan pun sungguh tak sudi berlalu. Seperti tak ubahnya benalu, yang rela menempel di setiap waktu.

Setan apa yang sebenarnya menggerayangi bayanganku? Berlari seperti terikat. Berjalan malah semakin bubrah. Di belakangku rintihan suci melayang-layang meminta pertanggungjawaban.

Aku dikepung perasaan bersalah. Ketika aku berbalik arah ataupun berjalan mundur, maka habislah sudah. Rintihan suci itu akan berubah nyanyian kekecewaan, dan aku hanya bisa menghela.

Tidak. Aku tidak menginginkan itu. Aku ingin rintihan itu tetap menjadi suci.  Sesuci Fatimah bagi Sayyidina Ali.

Once, at a time, I just want to run. But then, i remember people who always pray for me. Love me wholeheartedly without complaining. That's why i keep holding on. Though it's tough enough and burn my spirit to its end.


ulfa fauzi
22022015
21.09 pm
Oslo

Senin, 09 Februari 2015

THE SILVER NECKLACE ( PART 2 )


He felt the footstep of the woman came closer. Perforce he stood up and faced toward the woman. She was still beautiful as before, the man thought. The long blonde hair. The white stunning skin. The sexy body and lips. The hazel eyes. And the last, the most sarcastic mouth.

The man stopped the exploration and started to grin. Without any words he leaved the woman and walked slowly into his car.

“Runaway again, Alexander?” The woman’s sarcastic question made him stopped.

Alexander. He almost forgot that name. Was it really his name? With a deep steadying breathe, he walked around and went back to the woman.

“Again?” The man who was known as Alexander raised his brow. Then he started to chuckled. “Don’t you forget about one thing, My Dear Elaine ?”  

The woman whose name Elaine gritted her teeth. She looked to hold her anger. Saw the woman’s quietness, Alexander laugh slowly. He shook his head and once again leaved the woman alone. Got on the car and drove fastly. 

***  


To be continued....... 


Monday, Februari 9th 2015
03.37 p.m

Kamis, 05 Februari 2015

The Silver Necklace (Part One)

The rain started to fall, but he was till here, waited to end up a thing.
He was a man with a curly hair. Curly brown hair. He was handsome and tall with lot of tattoes along his arm. He had a sharp eyes. As sharp as eagle's eyes. He was rich and came from a welfare family. The only lack was he was alone.

He sat alone under a big oak tree. With his sharp eyes, he looked around. The rains already made his body wet, but he didn't even care. He just sat with his both hand accrossed his chest and thought about the past.

A year ago, in this place, he had the world in his hands. Then, his world fought against him. 

"Do you want to stay here until you die?"  A question came from behind. 

He  took a sharp glance and said nothing. He just wanted to be alone. And this woman behind him ruined everything.


to be continued.......

Sabtu, 31 Januari 2015

Cerita di Balik Cerita



Anyone knows this guy? Yup ! He's Alexander Richard Pettyfer. The handsome guy from England.

Sosoknya menginspirasiku untuk membuat sebuah novel dengan tokoh utama lelaki seperti dirinya.

Aku memberi nama tokoh utamaku ALEK. Berbeda di huruf akhirnya. Ya..karena tokoh utama dalam novelku aku gambarkan sebagai seorang keturunan Rusia.

Sementara tokoh wanita aku beri nama JEMIMA, yang artinya merpati. Tokoh wanita ini aku gambarkan sebagai seorang wanita mandiri asal Indonesia.

Novel ini sudah mencapai tahap akhir pembuatan. Remember.. Tahap akhir pembuatan.. Bukan tahap akhir cetak !

Novel ini ber-genre romance thriller dengan rate dewasa. Mungkin lebih banyak terinspirasi dari kesukaanku membaca novel-novel dengan genre yang sama. Pantasnya sih dibaca oleh kalian-kalian yang berusia di atas 20 tahun.

NO !! BUkan novel erotis kok.. just romance dengan kehidupan pernikahan yang sedikit rumit.

Belum bisa bercerita banyak.. Karena novel yang kubuat dengan 21 chapter ini baru mencapai chapter ke 20. Masih satu bab lagi sebelum masuk proses editing. Dan setelah itu...Baru dikirim ke penerbit-penerbit major yang mau menerbitkan.

This is one of my screenshot for my work. Nggak kelihatan ya? Hehe..Sengaja.

Nanti yaaaa...setelah novel ini sudah fix. Sampai sekarang pun judulnya belum ketemu kok.... :))

Semoga saja ini bisa menjadi novel pertamaku yang terbit... Aamiin. :))

YEARS AGO

YEARS AGO....

Aku menatap lekat lelaki di hadapanku. Dia lelaki berkulit putih, memiliki hidung mancung, mata yang tajam layaknya elang.

Years ago...

Aku menatap masa depan dalam matanya. Membayangkan segala segi keindahan jika bersamanya. Menyimpan debaran rasa hanya untuknya.

Years ago...

Mimpiku ini hanya sebatas imaji. Yang bergelantungan kesana kemari tanpa tahu kapan terhenti. Mimpe tentang kebahagiaan bersama dia sang lelaki.

Years ago...

Aku tak pernah berani mengucap pasti. Hanya memberengut di dalam hati dan berdoa berlipat kali.

And this year...

Mimpi itu terlepas pergi. Tanpa sedetik pun melirik. Meninggalkanku dengan hari yang didera sepi.

Sakit...


Saturday, rainy day, di suatu tempat di Kota Karanganyar 31012015