Aku tidak pernah tahu, kehilangan Moira bisa semenyakitkan ini.
Meninggalkannya yang baru berusia seminggu bukanlah keinginan. Keharusan sebagai seorang pegawai yang siap ditugaskan ke mana saja, membuatku menjadi seseorang yang jauh dari keluarga. Termasuk dari Moira.
Aku tidak pernah berhenti meminta fotonya. Ketika dia sudah bisa membuka lebar matanya. Ketika dia sudah bisa berjalan. Ketika dia tertidur setelah seharian lelah bermain.
Setelah tiga bulan, tugasku akhirnya selesai. Aku diperbolehkan pulang dan menunggu proyek selanjutnya dimulai. Hal pertama yang selalu kuimpikan adalah bermain dengannya. Moira tentu saja. Karena itulah, pertama kali menginjakkan kaki di rumah, aku langsung mencarinya.
Dia terlihat kaget saat aku mengulurkan tangan dan memegang lembut kakinya. Lembut sekali. Pikirku saat itu. Dan aku langsung jatuh cinta untuk yang kedua kali dengan Moira.
Selama aku libur, Moira semakin dekat denganku. Dia mengikuti ke mana saja aku pergi. Tidur di sebelahku. Mengajakku bermain.
Waktu liburku hanya bertahan selama satu minggu. Jika biasanya aku tugas di lapangan, kali ini aku bertugas di kantor.
Sehari sebelum ke kantor, Ibu mengatakan bahwa Moira sepertinya sakit. Aku langsung mencarinya ke mana-mana. Kata Ibu, dia berjalan menuju arah jalan raya.
Benar saja, aku melihatnya tidur di antara rumput tetangga yang mulai mengering. Langsung saja kuangkat tubuhnya dan kubawa pulang.
Sejak sakit, Moira mulai menyukai kegelapan. Dia selalu bersembunyi di bawah meja TV. Tidak mau makan maupun minum. Bahkan, dia mulai jarang membersihkan tubuh.
Kegelisahanku semakin kentara. Dulu, aku pernah melihat tanda-tanda yang seperti ini.
Panleukopenia.
Penyakit mematikan bagi kucing. Tingkat keselamatannya sangat kecil. Apalagi untuk kucing usia tiga bulan ke bawah. Dan saat itu, Moira masih berusia tiga bulan lebih sedikit.
Moira harus dibawa ke dokter. Parahnya, aku sama sekali tidak punya uang. Gaji terakhir masih ditahan, karena proses cleaning data di kantor belum selesai.
Meminjam pada Ibu atau Ayah? Malu. Sementara adikku pun tidak punya uang. Aku obati Moira semampuku. Membuat kaldu ayam dan meminumkannya setiap satu jam sekali.
Dulu, pengobatan ini bisa berhasil pada Ibu Moira. Aku pun berharap Moira bisa bertahan dan sembuh. Untung saja waktu itu Hari Minggu. Kantor libur. Aku bisa mengurusi Moira seharian.
Di sore hari, karena tidak tahan dengan bau badannya yang semakin menyengat, aku nekat memandikannya. Ibuku sudah melarang. Tak kuhiraukan.
Hasilnya, Moira menggigil kedinginan. Aku menyelimutinya dengan handuk kering dan mendekapnya erat sampai menjelang malam.
Setelah maghrib, aku pergi ke petshop terdekat. Membelikan makanan lembek untuknya. Sial. Harga makanan untuk recovery ternyata lumayan mahal. Uangku kurang. Sementara, sudah tidak ada lagi yang tersisa di dompet. Atm pun kosong.
Akhirnya aku membeli makanan yang setara dengan uangku. Menyesal? Tentu saja. Uangku sebenarnya hanya kurang beberapa ribu saja. Jumlah yang sangat sedikit menurutku. Tapi, jika jumlah yang sedikit pun aku tak punya, aku bisa apa?
Sesampainya di rumah, aku menyuapi Moira secara paksa. Nihil. Dia tetap tidak mau makan. Ah. Seandainya saja aku bisa membeli makanan yang tadi.
Minggu berganti Senin. Aku harus ke kantor. Terpaksa aku menitipkan Moira pada Ibu. Hanya beliau yang saat itu ada di rumah.
Jam delapan malam, aku baru sampai di rumah. Ibu langsung mengatakan bahwa Moira semakin lemas. Aku segera berlari ke kandangnya dan melihat keadaannya. Benar saja. Dia terlihat begitu lemas. Berjalan saja sempoyongan.
Akhirnya, aku terpaksa meminjam uang temanku dan membawanya ke dokter. Sayang sekali, dokter tutup. Kami terlalu malam. Moira dibawa pulang kembali.
Di depan kandangnya, aku hanya bisa melihatnya meringkuk di pojokan. Besok. Aku akan membawanya ke dokter. Pagi-pagi sekali.
Semalaman aku menjaganya, hingga akhirnya Moira berjalan keluar kandang dan muntah. Air mataku sudah di pelupuk. Kuelus lembut tubuhnya. Kuberi semangat dengan kata-kata sayang. Entah dia mengerti atau tidak.
Jam sepuluh malam, tubuhnya sudah tidak kuat. Aku menangis tertahan. Sepertinya sudah waktunya dia pergi. Aku melihatnya menggelepar tak berdaya tanpa bisa melakukan apapun.
Hingga akhirnya, napas terakhirnya berhembus. Aku sudah kehilangan dia.
Tangisku mengencang. Aku terduduk di depan kandangnya sampai satu jam ke depan. Tidak mampu melakukan apapun.
Kehilangan Moira..ternyata bisa semenyakitkan ini.
Seandainya saja aku tidak memandikannya sore itu.
Seandainya aku punya uang untuk membawanya ke dokter.
Seandainya aku bolos kerja dan merawatnya di rumah.
Seandainya...
Beribu seandainya akan kulakukan. Jika itu bisa membawa Moira kembali.
Tulisan ini dibuat untuk memenuhi #tantangannulis #BlueValley bersama Jia Effendie
