Aku merasakan gelombang kepasrahan. Ragaku berdiri di sini, tapi mulut dan hatiku sebenarnya tak sehati. Bagaimana bisa? Dan kenyataannya memang bisa.
Hidup ini memang sangat lucu. Tapi kelucuan itulah yang membuatnya tampak lebih mewarni.
Ada kalanya di satu tempat, si miskin dan si kaya berjajar satu. Berjalan beriringan demi berlembar-lembar kertas nafsu. Meskipun pada akhirnya, kertas itu akan berubah lusuh. Namun, nilainya tak pernah luntur.
Dan kali ini aku menjadi si miskin. Seakan manusia yang jiwanya telah dikuasai makhluk lain dunia. Terkadang aku melupakan Sang Penguasa, hanya demi mengabdikan diri pada ketidakjelasan.
Sungguh hina ketika aku hanya bisa berteman dengan kesombongan. Pun ketika kesombongan itulah yang merobek-robek setiap celah keberhasilanku dan akhirnya menjatuhkan martabatku. Penyesalan pun sungguh tak sudi berlalu. Seperti tak ubahnya benalu, yang rela menempel di setiap waktu.
Setan apa yang sebenarnya menggerayangi bayanganku? Berlari seperti terikat. Berjalan malah semakin bubrah. Di belakangku rintihan suci melayang-layang meminta pertanggungjawaban.
Aku dikepung perasaan bersalah. Ketika aku berbalik arah ataupun berjalan mundur, maka habislah sudah. Rintihan suci itu akan berubah nyanyian kekecewaan, dan aku hanya bisa menghela.
Tidak. Aku tidak menginginkan itu. Aku ingin rintihan itu tetap menjadi suci. Sesuci Fatimah bagi Sayyidina Ali.
Once, at a time, I just want to run. But then, i remember people who always pray for me. Love me wholeheartedly without complaining. That's why i keep holding on. Though it's tough enough and burn my spirit to its end.
Hidup ini memang sangat lucu. Tapi kelucuan itulah yang membuatnya tampak lebih mewarni.
Ada kalanya di satu tempat, si miskin dan si kaya berjajar satu. Berjalan beriringan demi berlembar-lembar kertas nafsu. Meskipun pada akhirnya, kertas itu akan berubah lusuh. Namun, nilainya tak pernah luntur.
Dan kali ini aku menjadi si miskin. Seakan manusia yang jiwanya telah dikuasai makhluk lain dunia. Terkadang aku melupakan Sang Penguasa, hanya demi mengabdikan diri pada ketidakjelasan.
Sungguh hina ketika aku hanya bisa berteman dengan kesombongan. Pun ketika kesombongan itulah yang merobek-robek setiap celah keberhasilanku dan akhirnya menjatuhkan martabatku. Penyesalan pun sungguh tak sudi berlalu. Seperti tak ubahnya benalu, yang rela menempel di setiap waktu.
Setan apa yang sebenarnya menggerayangi bayanganku? Berlari seperti terikat. Berjalan malah semakin bubrah. Di belakangku rintihan suci melayang-layang meminta pertanggungjawaban.
Aku dikepung perasaan bersalah. Ketika aku berbalik arah ataupun berjalan mundur, maka habislah sudah. Rintihan suci itu akan berubah nyanyian kekecewaan, dan aku hanya bisa menghela.
Tidak. Aku tidak menginginkan itu. Aku ingin rintihan itu tetap menjadi suci. Sesuci Fatimah bagi Sayyidina Ali.
Once, at a time, I just want to run. But then, i remember people who always pray for me. Love me wholeheartedly without complaining. That's why i keep holding on. Though it's tough enough and burn my spirit to its end.
ulfa fauzi
22022015
21.09 pm
Oslo
3 komentar:
Sip yu....tingkatkan
sip yu...tingkatkan
Tingkatkan apane, Co?? haha :D
Posting Komentar