Sedari kecil, aku hidup dengan caci maki. Umpatan demi umpatan tak ubahnya bedil yg ditembakkan bertubi-tubi.
Sedari kecil, aku hidup dengan teriakan-teriakan. Ketakutan selalu menjadi teman setia tanpa kata.
Aku ingat, dulu, sewaktu aku masih kecil, Ibuku menangis tersedu di atas tumpukan tikar yang terlipat. Diriku yang masih kecil ini tak mengerti apa-apa. Hanya bertanya dengan polosnya, kemudian duduk diam menemani Ibu hingga tangisnya reda.
Aku ingat, dulu, sewaktu aku masih kecil, aku pernah bertanya pada Ibu. "Apakah kita akan dihidupkan kembali setelah mati, dan Allah yg kemudian menggerakkan kita?" Karena saat itu, dalam bayanganku, manusia digerakkan menggunakan tali oleh Allah. Layaknya boneka tali yg digerakkan manusia. Saat itu, Ibu langsung memelukku dan menyuruhku tidur.
Waktu berlalu, aku kecil berubah menjadi aku remaja. Umpatan dan teriakan masih saja menjadi lagu pengantar tidur. Kali ini disertai benda melayang hingga pukulan keras.
Hal besar terjadi ketika aku remaja. Memberikan pelajaran baru bagi umpatan dan teriakan. Saat itu aku melihat warna merah pada matanya. Pertama kalinya kulihat dia menahan tangisan.
'Ah, sepertinya dia mulai menyesal.' Pikirku saat itu.
Waktu terus berlalu. Aku remaja beranjak dewasa. Aku menjadi lebih tangguh. Selalu ingin melindungi semua yg lemah di sekitarku.
Ketika itu, aku hanya punya satu tujuan, mencegah semua yg pernah kualami tidak dialami adik-adikku. Ah, tapi sia-sia. Umpatan dan teriakan itu tetap saja bergema di setiap sudut rumahku.
Hingga akhirnya.. aku berkenalan dengan umpatan serupa dan mulai mengucapkannya. Aku pun melakukan teriakan yg sama, menyimpan emosi yg sama. Ternyata, aku sudah menjadi seperti dia.
Dia adalah kaca pembandingku. Lambat laun, aku dewasa mempunyai sifat yg hampir sama dengan dia. Kemarahan yg sama. Kesombongan yg sama. Tentu saja dengan pemikiran yg tetap berbeda.
Aku benci menjadi seperti dia.
Aku benci setiap hari berhadapan dengan dia.
Aku benci karena dia selalu berbicara berdasarkan emosi.
Aku benci karena tidak ada yg bisa menghentikan kemarahannya.
Aku benci...
Aku benci...
Aku benci...
Aku benci...rasa sayangku padanya melebihi rasa benciku.
Solo, 08122015
3 komentar:
hufffh.. ulfa, baca ini kepala langsung pusing...
hai ulfa..
Ahahaha...ada Mbak dhes.
Pusing kenapa Mbak Dheeesss?
Posting Komentar